Karawangplus.com – Bandung kembali biru. Jalan-jalan dipenuhi flare, klakson, dan iring-iringan kendaraan yang bergerak lambat seperti arus kemenangan yang tak ingin cepat usai. Gelar ketiga beruntun Persib Bandung pada musim 2025/2026 bukan hanya menandai dominasi baru, tetapi juga membuka kembali ingatan lama tentang klub-klub yang dulu pernah begitu perkasa di sepak bola Indonesia.
Sebab sejarah liga Indonesia modern sesungguhnya tidak terlalu akrab dengan dinasti.
Sebelum Persib menulis hattrick juara, publik pernah mengenal dua kerajaan besar lain: Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC. Dua klub itu pernah menjadi ukuran kejayaan, standar kemapanan, sekaligus simbol bahwa sepak bola daerah dapat berdiri lebih megah daripada ibu kota.
Kini, ketika Persib berdiri di puncak dengan lima gelar liga era modern 1994/1995, 2014/2015, 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026, orang mulai membuka kembali album lama itu.
Di halaman-halaman awal album itu, nama Persipura muncul paling dominan.
Klub dari timur Indonesia itu pernah menjadi wajah paling menakutkan di liga nasional. Empat gelar liga mereka raih pada 2005, 2008/2009, 2010/2011, dan 2013. Dalam rentang satu dekade, Persipura terasa seperti mesin kemenangan yang tak pernah benar-benar rusak.
Di Stadion Mandala, lawan-lawan sering datang dengan rasa gentar bahkan sebelum pertandingan dimulai. Mereka tahu ada Boaz Solossa, ada Ian Kabes, ada Eduard Ivakdalam, dan ada kultur sepak bola Papua yang bermain cepat, keras, sekaligus indah.
Persipura bukan sekadar tim juara. Mereka adalah identitas.
Pada masa itu, sepak bola Indonesia terasa memiliki poros dari timur. Anak-anak muda di banyak kota mengenakan jersey merah-hitam Persipura bukan karena tren, melainkan karena mereka ingin menjadi seperti Boaz: bebas, tajam, dan setia.
Lalu datang Sriwijaya FC.
Jika Persipura dibangun dari kultur, maka Sriwijaya FC lahir dari ambisi besar sepak bola modern daerah. Klub itu pernah menjadi simbol kemewahan kompetisi nasional. Stadion megah, dukungan dana kuat, pemain nasional terbaik, hingga atmosfer Jakabaring yang membuat Palembang seperti pusat baru sepak bola Indonesia.
Sriwijaya merebut dua gelar liga pada 2007/2008 dan 2011/2012. Tetapi yang membuat mereka dikenang bukan cuma trofi. Mereka pernah menciptakan kesan bahwa klub Indonesia bisa tampak profesional, glamor, dan mapan dalam waktu bersamaan.
Nama-nama seperti Keith Kayamba Gumbs, Ponaryo Astaman, hingga Firman Utina menjadikan Sriwijaya seperti galeri pemain bintang nasional.
Tetapi sepak bola Indonesia selalu lihai menyimpan ironi.
Hari ini Persipura masih berjuang keluar-masuk kasta bawah kompetisi. Klub yang dulu menjadi simbol supremasi Indonesia timur kini lebih sering hadir sebagai nostalgia di media sosial. Sementara Sriwijaya FC perlahan tenggelam bersama problem finansial dan menurunnya daya hidup klub.
Mereka belum hilang sepenuhnya. Tetapi gaungnya tak lagi sama.
Dan di situlah hattrick Persib terasa penting.
Karena dominasi Maung Bandung bukan sekadar tiga gelar beruntun. Ia seperti penanda pergantian zaman. Dari Persipura ke Sriwijaya, lalu kini ke Persib.
Bedanya, Persib memiliki sesuatu yang mungkin tidak dimiliki para pendahulunya dalam skala sebesar ini: massa yang nyaris tak pernah habis. Bobotoh bukan hanya penonton. Mereka adalah denyut ekonomi, tekanan sosial, sekaligus energi politik sepak bola Jawa Barat.
Ketika banyak klub runtuh karena dana pemerintah berhenti atau elite daerah berganti, Persib tetap memiliki pasar yang hidup. Stadion mereka penuh bahkan ketika tim sedang biasa-biasa saja. Merchandise tetap laku bahkan saat trofi belum datang.
Karena itu, hattrick Persib bukan cuma kemenangan teknis di lapangan. Ia adalah kemenangan ekosistem.
Namun sejarah sepak bola Indonesia juga menunjukkan satu hal yang sama dari masa ke masa: tidak ada singgasana yang benar-benar abadi.
Persipura pernah terlihat terlalu kuat untuk jatuh. Sriwijaya pernah tampak terlalu mapan untuk tenggelam. Kini keduanya hidup sebagai kenangan tentang sebuah era ketika mereka pernah menguasai liga.
Dan mungkin beberapa tahun lagi, ketika generasi baru membuka arsip lama sepak bola Indonesia, mereka akan menemukan cerita tentang Persib yang pernah begitu dominan lalu bertanya dengan nada yang sama seperti hari ini:
ke mana mereka sekarang?
Penulis : John O’ray
karawangplus.com Jujur Memotret Karawang