Karawangplus.com – Mula-mula yang datang adalah janji gaji besar, kerja ringan, dan angin surga hidup di negeri seberang. Sebagian mungkin merasakan, tapi tak sedikit juga yang terperangkap jebakan.
Ajat Sudrajat, warga Rawamerta kini terbaring di Kamboja dengan kaki patah dan pinggul cedera. Tubuhnya remuk usai menyelinap demi melarikan diri dari lingkar penipuan kerja yang belakangan tumbuh subur di Asia Tenggara. Industri gelap yang menjual harapan, lalu memeras manusia.
Ia jatuh dari lantai tiga. Sebuah lompatan demi kebebasan, lepas dari jerat sindikat scamming. Di negeri asing itu, orang-orang seperti Ajat bukan lagi diperlakukan sebagai pencari nafkah, melainkan komoditas. Ia dipaksa bekerja, diawasi, dan sulit keluar tanpa luka.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Karawang melalui Katim Penempatan Tenaga Kerja Dalam dan Luar Negeri Ijum Junaedi sedang berusaha memulangkan Ajat.
Koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), yang disebut siap membantu biaya kepulangan korban. Namun, kepulangan itu ternyata tak sesederhana membeli tiket pulang. Tubuh Ajat lebih dulu harus sanggup menanggung perjalanan panjang menuju rumah.
“Ajat mengalami patah tulang setelah jatuh dari lantai tiga saat berusaha kabur. Beruntung saat ini dia sudah berhasil diselamatkan dan berada dalam penanganan KBRI,” kata Ijum.
Di balik urusan teknis pemulangan, tersimpan pekerjaan yang tak ringan. Sebab memulangkan pekerja migran bermasalah dari luar negeri bukan sekadar membeli tiket perjalanan.
Ada urusan kesehatan, keselamatan, hingga skema pendampingan yang harus diperhitungkan dengan cermat. Dalam kasus Ajat, kondisi fisiknya menjadi pertimbangan utama. Pemerintah daerah tak ingin kepulangan dilakukan tergesa-gesa, lalu justru memperburuk keadaan korban.
Sikap kehati-hatian itu memperlihatkan satu hal penting bahwa perlindungan tenaga kerja tak boleh berhenti hanya pada urusan penempatan. Ia harus hadir pula saat warganya berada dalam situasi paling rentan.
Dan di titik inilah, peran Disnakertrans Karawang tampak bekerja bukan sekadar sebagai institusi, melainkan sebagai penghubung harapan antara korban dan rumahnya sendiri.
Penulis : John O’ray
karawangplus.com Jujur Memotret Karawang